Senin, 03 Januari 2011

CERPEN: SENYUM di 04 Oktober

Senang dan sedih itu sudah biasa dalam hidup. Tanpa kedua rasa itu rasanya kurang pas. Seperti sayur kurang garam. Seperti panas tanpa payung. Justru sepertinya di jaman sekarang, senang dan sedih kurang diseimbangkan. Banyak yang senang tanpa ada rasa syukur kepada sang kholiq. Banyak pula orang yang baru ingat Tuhan saat dia meneteskan air mata ke pipinya. Sangat disayangkan bukan.
Safira, panggil saja Ira. Di usiaku yang baru menginjak 15 tahun, setidaknya aku sudah belajar tentang hidup. Hidup yang cukup rumit. Bahkan bagi siapa saja yang menjadi aku, belum tentu dia bisa setegar karang yang akupun tak bisa.
3 tahun sudah aku berada di ambang kesedihan. Masih belum diujung. Andai aku bisa menguak semuanya, inilah akhir perasaan itu.
“Ira, makan yuk!!” tegur fina yang membangunkan lamunanku.
“makasih, tapi laparku belum datang, nanti aja ya non” balasku dengan senyuman lembut.
Fina adalah lebih dari sahabat bagiku. Fina tahu semua tentang aku kecuali tentang itu. Itu yang membuat aku terpuruk.
“aku pulang dulu ya fin. Udha sore” denting jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Bisa gawat kalu bunda tahu anak semata wayangnya telat pulang. Sampai dirumah yang penuh dengan cuaca aneh. Aku melihat seorang ibu-ibu yang mengenakan daster merah jambu. Wajahnya yang ayu membuatku luluh akan kasih sayangnya. Dialah bundaku. Aku amat mencintainya, melebihi apa yang ada.
“Bunda.. Maaf Ira telat. Tadi maen dulu ke rumah fina. Ayah sudah pulang?”
“Ira sudah makan?” seolah bunda mengalihkan pertanyaanku
“bunda, ayah mana?” desakku bertanya
“Ayah belum pulang nak” jawab bunda dengan lirih
Aku tahu apa yang dirasaan bunda. Begitu sakit pasti. Semua ini terjadi setelah ayah mengenal perempuan itu. Perempuan yang dulu sempat diperkenalkan padaku. Awalnya aku hanya diam. Aku tidak tahu jika hubungan ayah dan tante lastri (namanya) berlanjut.
“kita harus cari ayah bunda. Ayah gagh bisa kayak gini terus. Apa ayah sudah melupakan kita?”
“tapi kita mau cari kemana nak?”
“bunda.. apa bunda masih mencintai ayah? Kalu bunda masih mencintai ayah, ini saatnya. Bunda harus bisa kembali merebut ayah dari perempuan itu. Bunda, Ira gagh mau hidup tanpa ayah!!”
“Ira, berdo'a ya. Semoga ayah diberi jalan yang terbaik oleh Tuhan. Ira percaya kekuasaan Tuhan kan??”
Aku hanya mengangguk. Linangan air mata ini rasanya tak bisa ditahan lagi.
“Ya Allah, bunda selalu mengajarkan aku tentang kesabaran dan keikhlasan. Bunda juga yang selalu mengajariku tentang ketegaran. Ya Allah, aku mohon berikan segala yang terbaik untuk Bunda. Kembalikan ayah pada kami. “
Setiap malam hanya harapan dan do'a yang bisa kami lakukan. Entah kapan ayah akan kembali. Entah kapan juga keluarga kami akan berkumpul. Semoga esok kan lebih berarti. Semoga senyum itu dapat pulang ke rumah ini. Aku tahu ayah tidak serendah itu. Dia punya Cinta untuk kami.
“Ira.. ayo bangun. Fina sudah menunggumu di depan”
Huahhh, tidur yang melelahkan. Apa yang akan terjadi hari ini ya?? “semangat”. Lekas aku bersiap-siap untuk melaksanakan kegiatanku hari ini, 4 oktober 2010.
“Bunda, Ira brangkat dulu!! Oiy, happy birthday bunda. Maafkan Ira sudah membuat bunda sedih semalam. Semoga kebahagiaan sejati datang di hari ini.”
“terima kasih saya”. Kecupan manis melayang di kening seorang anak manis yang berusaha memberikan senyum terbaik.
Setapak demi setapak aku melangkah bersama sahabatku. Rencananya hari ini kita akan mencari bahan untuk penelitian ilmiah besok. Tahu sumedang cari dimana ya?? ahh cari ajja di pasar kota.
Dari kejahuan aku melihat bayangan seorang laki-laki sedang mengikuti langkah kita.
“Fin, kamu ngrasain sesuatu g?”
“seseorang dibelakang kita bukan? Dia mengikuti kita dari tadi”
“ia, tapi siapa ya?”
“LARIIIIIIIII....”
sekuat tenaga aku dan fina menghindar dari lelaki misterius itu. Lari dan terus berlari. Hingga akhirnya nafas kami terengah-engah. Kitapun bersembunyi di balik lorong tong sampah. Terlihat lelaki itu terus mengejar kita.
“Ira.. dimana kamu. Ini ayah. Ayah kamu yang dulu mengkhianati keluarga kita. Maafkan ayah nak, maafkanayah. Dimana kamu? Ayah sungguh menyesal. Seandainya waktu bisa berputar ayah berjanji tidak akan mengecewakan kalian. Ayahmu ini memang bejat..”
Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Ayah yang sangat aku rindukan kini ada di hadapanku. Ayah yang telah menggoreskan luka kini telah menyadari. Tapi apa yang harus aku lakukan? Bunda, dia laki-laki yang membuatmu menahan sakit.
“Ira, apa yang kamu inginkan sudah kembali. Kenapa masih diam disini. Cepat pergi susul ayahmu. Manusia punya khilaf, yakinlah dia mampu mengganti semua kesedihan kalian dengan senyum yang baru”
bergegas aku mengejarnya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin kembali bisa memanggil ayah. Aku ingin dia mengembalikan senyum itu. Senyum yang dulu pernah hilang, kini kembali di 4 Oktober 2010. Terima kasih Tuhan, Penantian ini berakhir manis dengan keikhlasan dan kesabaran.

DYSTA_COBRUT
4 OCT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar