Sabtu, 01 Agustus 2009

gapuro dewi sekardadu


Kalo ini adalah Gapuro menuju makam Nyai Dewi Sekardadu (Ibu kandung dari Sunan Giri) yang terletak di daerah Gunung Anyar Kelurahan Ngargosari kebomas Gresik.

Ini adalah beberapa foto hasil jeprat-jepret kru alas jurit tentang Masjid istimewa di kota Gresik.
(1) Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik
(2) Masjid Al Islah di jalan raya Manyar
(3) Masjid Jami' Sunan Dalem di Gumeno, Manyar, Gresik
(4) Masjid di jalan raya Sembayat
(5) Masjid Agung Gresik

masjid istimewa




INDAHNYA PROSES KEHIDUPAN

Tidak ada satupun keberhasilan diperoleh begitu saja tanpa adanya suatu proses usaha untuk mengawalinya. Hasil adalah akibat dari usaha yang telah kita lakukan, dan untuk mendapatkan hasil, tentunya kita akan melewati sebuah proses, yang mau tidak mau kita akan menjalaninya.
Meminjam istilah Sutrisno Bakhir, Hidup adalah perbuatan. Berani hidup berani berbuat, berani berbuat berani bertanggung jawab. Falsafah demikian merupakan pegangan kita dalam mempelajari proses hidup. Satu hal yang sering kali membuat kita salah adalah menempatkan hasil sebagai tujuan utama yang harus dicapai bagamanapun caranya, apakah dengan menyikut temannya atau bahkan berbuat curang untuk mencapai hasil itu sendiri. Sebagaimana yang sering kali kita lihat dan saksikan dimasyarakat kita, dimana banyak orang yang lebih berorientasi pada hasil dari pada proses, sehingga kasus korupsi, nepotisme, penipuan, atau kasus suap, bayak terjadi ditengah-tengah masyarakat kita. Jalan pintas membuat mereka tidak banyak berfikir akhirnya, yang terpenting adalah mereka memperoleh kesenangan dari hasil yang diperolehnya. Mereka ingin cepat menjadi orang yang kaya dengan harta yang sangat berlimpah, tanpa harus melewati sebuah proses yang menurut mereka membuang waktu. Mereka ingin segera menikmati kemudahan demi kemudahan tanpa harus susah payah berusaha dengan kucuran keringat. Demikian pula wajah pendidikan kita disebagian banyak tempat guna memiliki nilai siswanya lulus 100 % maka dengan berbagai cara yang instan agar siswanya bisa mencapai nilai yang diinginkan, hanya mengacu pada hasil sehingga mengorbankan tujuan mulia yaitu mencerdaskan anak bangsa.

Tujuan dalam hidup, memang sebuah titik penting untuk kita capai, tetapi terpancang pada hasil justru membuat kita mengabaikan proses yang seharusnya kita lalui. Memang setiap orang yang melakukan suatu hal, pasti tujuannya adalah untuk meraih suatu hasil yang gemilang. Tetapi janganlah ketika kita hendak meraih suatu hasil, kita mengabaikan hal-hal yang dilarang oleh agama. “Hai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kamu terperdaya oleh kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu tertipu oleh suatu penipuan, sehingga terlupa pada Allah. (QS. Luqman: 33). Ketika ingin meraih sesuatu auatupun merubah kondisi tertentu, harus dimulai dari memupuk kekuatan jiwa kita. Oleh karena itu, yang harus ada di benak kita adalah keinginan untuk terus berubah dan terus menjadi lebih baik. Hari ini harus bertambah ilmu. Hari ini harus bertambah wawasan. Hari ini harus bertambah kedewasaan. Hari ini harus bertambah kenalan atau relasi baru dan hari ini pula harus bertambah kebaikan. Jadi yang harus kita pikirkan sehari-hari adalah bagaimana kita menbingkatkan kemampuan diri, baik itu ilmu, ketrampilan ataupun amal kita. Semua harus kita programkan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kondisi sesulit apapun. Kalau sehari-hari yang kita lewati tidak disertai dengan bertambahnya kemampuan diri, maka lambat laun kita akan digilas oleh cepatnya roda perubahan.
Kesadaran seperti ini teramat penting untuk kita tanamkan, karena itulah kekayaan hakiki. Barang siapa menginginkannya, maka berjuang meningkatkan kualitas diri adalah syarat pertama dan utama.

Andai kemampuan kita berada diatas masalah yang ada, maka kita akan lebih mudah dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Seperti halnya orang yang belajar terus-menerus. Tatkala menghadapi ujian kemampuannya akan berada di atas masalah. Ia akan gembira menghadapi ujian tersebut, menikmati tatkala ujian berlangsung dan setelah ujian ia akan menikmati pujian dan nilai yang baik. Mengapa ? karena ia sudah sangat siap. Tidak demikian halnya dengan orang yang tidak pernah belajar dan mempersiapkan diri dengan baik. Ketika akan menghadapi ujian ia akan stress dan panik, saat menjalani ujian ia begitu menderita , begitupun setelah ujian ia akan terhina dan terpuruk.
Maka kita diajarkan oleh Agama kita untuk selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi kondisi sesulit apapun. Islam melarang sikap tergesa-gesa , dan prestasi akan diraih secara bertahap sesuai sunnatullah. Dan dibutuhkan kinerja professional dalam segala hal. Adapun hasil dan kesuksesan itu rahasia Allah. Kita dituntut untuk menyelaraskan usaha dan ikhtiar dengan mulia. “ Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu (QS. At-Taubah:105). Peringatan ini untuk mengevaluasi diri tentang seberapa jauh kita mampu meningkatkan kualitas diri untuk menyongsong hari esok lebih mulia dan lebih baik. Amin.

MENATAP WAJAH PENDIDIKAN MASA DEPAN

Mei adalah bulan pendidikan, dan juga bulan kebangkitan. Beragam acara dan upacara dilaksanakan di mana-mana, bahkan peringatan yang dihelat di gedung-gedung mewah. Sekedar mengungkapkan rasa syukur atau menunjukkan eksistensi jati diri? Cukupkah hal itu untuk memperingati momen yang menjadi tonggak sejarah kemajuan bangsa ini?

Tonggak Kemajuan
Adalah sebuah keniscayaan apabila kredibilitas suatu bangsa akan diukur dari kemajuan pendidikan warga negaranya. Semakin tinggi tingkat pendidikan di suatu bangsa, semakin terhormat dan beradablah bangsa itu di hadapan bangsa-bangsa lainnya. Begitu sebaliknya.
Hal itu terjadi karena pendidikan akan berpengaruh dan menjadi ukuran kemajuan faktor-faktor lainnya. Perekonomian yang bagus pastilah didukung oleh pelaku-pelaku ekonomi yang terdidik. Penegakkan hukum yang kredibel jugalah akan didukung oleh aparat yang berpendidikan pula, begitu juga pada bidang yang lain.
Dengan kondisi seperti itu, siapapun, termasuk pihak mana pun, yang tidak menjadikan pendidikan sebagai platform dan lifeline akanlah secara alamiah tergerus oleh zaman dan peradaban. Mereka, yang merasa memiliki bangsa ini dan di dadanya masih bersarang Indonesia, makan dari tanah dan air Indonesia, berpijak di bumi dan beratap langit Indonesia, peluh dan keringatnya masih berbau Indonesia, haruslah mendukung kemajuan pendidikan tersebut.
Pemerintah pusat saat ini seolah menemukan momentum dan baru sadar dari tidur panjangnya bahwa pendidikan adalah dasar dari semuanya. Dengan menetapkan anggaran pendidikan minimal 20%, pastilah pemerintah akan mampu berbuat banyak untuk merekontruksi pola dan menejemen pendidikan. Regulasi dan reposisi program menjadi hal yang wajib untuk dilakukan mengingat selama ini masih kacaunya sistem yang berjalan.
Hal itu tentunya harus didukung melalui ejawantah program di tingkat bawah. Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus bergerak secara sama, linier, dan kontinyu. Jangan sampai pemerintah pusat berjalan sendiri, terengah-engah, dan akhirnya terjatuh yang berujung pada gagalnya program yang telah dirancang. Urusan politik, golongan, kelompok haruslah dibuang jauh-jauh jika tidak ingin kembali ke kegagalam masa lalu.
Di samping itu, para legislator yang terhormat utamanya komisi-komisi yang terkait, pengusaha, dewan pendidikan, kepolisian, serta siapapun juga tidak bisa berpangku tangan dan diam menyaksikan semuanya. Mereka juga sebenarnya objek dan subjek kemajuan pendidikan. Pendidikan yang baik akan mencetak legislator, pengusaha, polisi yang baik pula. Mereka harus juga menyingsingkan lengan, cancut tali wanda, untuk membantu mewujudkan kemajuan pendidikan di negeri ini sesuai dengan peluang dan kemampuan mereka.

Pendidikan seperti apa?
Pendidikan masa depan, seperti apa? Ini yang harus dirumuskan dan menjadi dasar tujuan. Merangkum berbagai pendapat pakar pendidikan, baik dari dalam maupun luar negeri, dan mencermati hal yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, penulis setidak-tidaknya dapat menyimpulkan menjadi lima hal. Hal-hal tersebut akan diuraikan dengan bahasa yang sederhana agar lebih familier dan mudah dipahami.
Pertama, Pendidikan yang menyentuh keyakinan dalam keberagamaan. Dalam konteks Indonesia, paham Atheisme mutlak ditolak dan menjadi musuh utama. Tetapi karena sebuah paham menyangkut masalah hati dan keyakinan, sampai kapan pun harus tetap dibutuhkan kewaspadaan. Pendidikan masa depan haruslah menyentuh dasar-dasar keyakinan dalam keberagamaan karena hal inilah yang menjadi dasar implementasi hasil dan tujuan seseorang mencari pendidikan. Menjadi salah apabila orang yang berpendidikan justru menjadi sponsor berbagai kemaksiatan. Apakah carut-marutnya korupsi di negeri ini juga akibat efek ketidakberhasilan pendidikan dalam menyentuh keyakinan tersebut? Wallahu’alam. Ke depan, meminimalisasi efek negatif akibat kesadaran beragama menjadi bagian mutlak dalam dunia pendidikan.
Kedua, Pendidikan yang memperbaiki akhlak dan budi pekerti. Banyak yang berujar, anak sekarang tidak punya tata karma, jauh dari sopan santun, dan bertindak semau gue. Tidak terdidikkah mereka? Jelas terdidik! Tidak dididikkah mereka? Ini yang perlu kita cari jawabannya. Mendidik membutuhkan keteladanan. Uswah inilah yang sekarang jauh panggang dari api. Keteladanan adalah unsur dasar pendidikan. Apakah kita salah menjadi pendidik? Bisa jadi! Mungkin kita adalah generasi yang tanggung sehingga mayoritas hanya mampu mengisi otak tanpa mampu mengisi hati. Belajar menjadi pendidik yang professional menjadi sebuah keharusan karena kita memang diamanatkan undang-undang menjadi tenaga professional. Professional yang utuh tidaklah sekadar mumpuni dalam ilmu, melengkapi diri dengan administrasi, bertabur diri dengan teknologi canggih, tetapi miskin hati dan jauh dari posisi guru sejati. Dan pendidikan masa depan hendaklah mengakomodasi semua tuntutan itu.
Ketiga, Pendidikan yang harus menempatkan siswa sebagai subjek dan tidak sekedar sebagai objek. Semboyan bahwa kurikulum boleh berubah, tetapi sistem pengajaran tetap seperti biasa, seolah menjadi sikap konsisten para pendidik, konsisten untuk tidak berubah dan menafikan perubahan. “Biarlah anjing menggonggong”, biarlah pengambil kebijakan memodifikasi sistem atas nama apapun, ganti menteri ganti kebijakan, yang penting “kafilah tetap berlalu”, yang sudah biasa dilaksanakan kenapa harus diubah? Inilah sistem yang ke depan harus diperbarui. Siswa adalah pelaku pendidikan utama, merekalah pemilik ilmu di masa depan, dan mereka harus dibiasakan dengan berbagai kebiasaan: kebiasaan bersikap sendiri! Biarlah mereka melakukan dan jangan biasa diperlakukan. Biarlah mereka kreatif, jangan dibentuk pasif. Ajari mereka menemukan, jangan biasakan ditunjukkan! Kalau kita sayang mereka, perlakukan sesuai kebutuhan mereka di masa mendatang. Pendidikan tidak berputar untuk masa kini, tetapi mengalir untuk masa depan.
Keempat, Pendidikan yang mempermudah pencapaian tujuan peserta. Tidak ada masa depan tanpa tujuan. Ujung dari tujuan itu tidak lain adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Pendidikan ke depan haruslah mampu mempermudah akses untuk mencapai tujuan, tidak sekedar tong kosong berbunyi nyaring. Hanya ramai di perencanaan dan proses tetapi sepi di hasil. Ketegasan regulasi juga sangat berpengaruh dalam hal ini. Tidak jarang dunia kerja menengah yang hak siswa SMK “diserobor” siswa SMA karena pengusahanya ingin membayar murah. Banyak sarjana yang mau turun kelas menjadi tenaga produksi karena sempitnya kesempatan mereka di level menejer sehingga merampas hak-hak adik-adiknya. Jika hal ini masih dan terus-menerus berlangsung, tidak akan pernah tuntas permasalahan di negeri ini. Semua level pendidikan harus dijamin hak-haknya untuk meneruskan jenjang, baik sebagai tenaga kerja maupun kuliahnya.
Dan kelima, Pendidikan yang mejadi agen perubahan positif bagi peradaban. Satu bidang yang memang digadang-gadang mampu menjaga roh ke perubahan positif adalah pendidikan. Norma dan nilai-nilai kehidupan secara lengkap bisa diajarkan di sini. Berbagai teori dari yang sederhana sampai yang rumit, ditemukan di sini. Tetapi, hanya akan menjadi prasasti saja jika semua itu tidak diwujudkan dalam bentuk perbuatan. Hanya akan menjadi hiasan di tengah luluh-lantaknya pondasi peradaban. Inilah pentingnya implementasi nyata dari sistem dan teori pendidikan di masyarakat. Sejatinya, perubahan yang hakiki adalah sikap positif terhadap permasalahan. Dan diharapkan pendidikan masa depan mampu menjadi agen dan jembatan bagi pencapaian tujuan tersebut.

Satu Tekat
Sungguh sia-sia jika sikap positif pemerintah tidak disambut dengan tangan terbuka oleh semua komponen bangsa. Lebih sia-sia lagi apabila sambutan tersebut hanya dijadikan komoditas kepentingan sesaat dan kekinian. Masa depan jauh lebih berharga untuk diselamatkan melalui pendidikan daripada berpikir tentang apa dan berapa yang kita dapat untuk saat ini.
Jika sumua punya satu tekat, untuk kemajuan bangsa adalah pendidikan pilihannya, maka mari kita pegang teguh janji ini. Sebagai pelaku pendidikan, yang seharusnya berdiri di garis terdepan, harus mampu dan berani menjadi agen perubahan. Perubahan untuk menjadi professional dan berkeberadaban.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Sinergimu akan menjadi kejayaan bangsaku! (dari Surabaya untuk Bangsa, Ghoz)