Selasa, 22 Maret 2011

kunci jawaban US SMK tahun 2010 (part 3)

KUNCI JAWABAN US EDISI SELASA, 22 MARET 2010 DAPAT DI DOWNLOAD DI SINI

Sepakbola Istimewa di Indonesia

Indonesia adalah surga sepak bola. Kita dimanjakan dengan tontonan gratis di layar kaca antara 2 s.d. 8 pertandingan per pekan, bahkan bisa lebih. Sepakbola indah nan memukau kita nikmati via Liga Inggris, Spanyol, Italia bahkan Liga Champions secara cuma-cuma. Belum lagi jika ada gelaran Piala dunia, Eropa bahkan Asia kita juga tak perlu membayar untuk menontonnya. Untuk arena lokal, kini kita dapat suguhan Liga baru di nusantara bermerek Liga Premier Indonesia bersanding dengan liga Indonesia yang sudah ada (ISL dan Divisi Utama, red).
Klop bukan? Jadi jangan pernah menyesal hidup di Indonesia. Di negara lain cerita bisa berbeda. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam guna nonton sepakbola via tv berbayar. Sedang di Indonesia, meski ada juga yang memanfaatkan jasa tersebut, tidak usah munafik jika kita lebih memilih nonton secara gratis. Betul?
Namun, yang jadi pokok bahasan di tulisan saya ini adalah tentang kehadiran Liga Primer Indonesia. Kompetisi yang “dianggap” tandingan liga milik PSSI ini jelas menjadikan Hati Pencinta Sepakbola di Indonesia terbelah. Liga yang baru bergulir awal tahun 2011 ini dimotori oleh sang hartawan Arifin Panigoro. Mana yang benar, atau mana yang salah? Jelas saya yang orang awam tak bisa menghakimi. Untuk itu, ikuti coretan saya selanjutnya.
Kasus hadirnya LPI dari sisi ekonomi adalah lahan baru bagi pekerja yang memanfaatkan sepakbola sebagai ladang mengais rezeki. Ini bisa jadi sisi positif. Berapa ratus pedagang yang gara-gara ada LPI menjadikan nafkahnya bertambah. Selain itu, ratusan orang juga ikut-ikutan mempunyai lahan pekerjaan baru serupa penjaga tiket, calo, petugas keamanan, pemotong rumput, de-el-el.
Dari sisi persaingan, ini bisa jadi serupa antara Sariayu vs Mustika Ratu, Blue Bird vs Express, Hypermart vs Carrefour, Indomaret vs Alfamart, Coca Cola vs Pepsi, Honda vs Yamaha, atau bahkan Soto Lamongan dan Soto kota-kota yang lain, justru akhirnya membuat industri bersangkutan semakin maju dan berkembang. Apakah PSSI dengan ISL dan kasta di bawahnya vs LPI dapat bersaing secara sehat seperti daftar merek tadi? Semoga saja karena Ke depan, diharapkan kedua liga tersebut akan berlomba membuktikan bahwa merekalah yang terbaik. Inovasi-inovasi baru mungkin akan tercipta, kualitas akan terus meningkat dan keuntungan akan semakin bertambah. Imbasnya, prestasi sepakbola nasional (timnas, red) lebih membanggakan. Amin….
Jadi jangan pernah mengeluh melihat persepakbolaan di Indonesia. Dua liga dalam satu wadah bisa saja terjadi asalkan keduanya sama-sama merk dagang yang disuguhkan kepada publik, bersaing sehat lalu pada akhirnya biarkan sepakbola mania yang memilih. Cukup lah kita berkata “nikmati saja” karena biar bagaimanapun dua liga (tanpa menyoal sistem, aturan, teknis, dll) ini jadi hiburan tersendiri pencinta bola sore hari terutama akhir pekan. Selain itu tontonan di tv jadi lebih berwarna dan kitalah yang menentukan. Ketika ada Persisam vs PKT di ajang ISL (ANTV) dan dalam waktu bersamaan ada Tangerang Wolves vs Persebaya di ajang LPI (Indosiar) pertengahan Januari lalu, saya yakin mayoritas pecandu bola lebih memilih nonton ISL karena kualitas permainan dan lapangan yang jauh lebih yahud. Pada waktu lain bukan tak mungkin situasi bisa berbeda.
Sore hari ada Liga Indonesia serupa ISL, Liga T-Phone, dan LPI. JIka malam tiba, ada TVone dengan Fiesta La Liga-nya. Global TV dan MNCTV memanjakan pemirsa dengan Barclays Premier League plus FA Cup-nya, Indosiar siarkan Lega Calcio. RCTI merebut hati dengan Liga Champions dan Europe League-nya. Meski ada intrik negatif menyoal kehadiran LPI, tetap saja ini menambah hidangan yang siap dinikmati pencinta sepakbola tanah air. Jadi, berbanggalah kita hidup di Indonesia dengan carut marut politik yang tak kunjung selesai namun tetap istimewa dalam sajian sepakbola. (aluk 2/2011)

Senin, 21 Maret 2011

Sabtu, 19 Maret 2011

Senin, 24 Januari 2011

anda yang ada di jalur SMK dan sedang bersiap-siap menghadapi UN & UKK 2011, dapatkan info seputar UKK, UN, dan petunjuk teknisnya disini

Selasa, 18 Januari 2011

Kisah sedih Timnas Indonesia

Telur itu terlanjur menetas sebelum tiba waktunya menjadi seekor ayam. Yupz, itu mungkin kalimat sahih yang patut kita alamatkan untuk Timnas Indonesia. Pada penghujung 2010 kita dibuat bangga sekaligus sedih oleh tim merah putih. Tampil perkasa sejak fase penyisihan sampai semifinal namun “terlelap” pada Leg 1 babak final. Sampai akhirnya mimpi sejak 19 tahun untuk jadi juara gagal terwujud.
What’s wrong? Terganggunya konsentrasi pemain akibat agenda PSSI serta Media yang “berekspektasi super tinggi” memang jadi faktor utama (menurut Riedl,red). Kasus laser Malaysia ala Ultraman juga layak dikedepankan. Namun, ada satu hal yang sebenarnya jadi kunci utama yakni mental pemain.
Lima pertandingan awal (penyisihan dan semifinal) yang berhasil dimenangi Timnas (plus laga terakhir kontra Malaysia) semua digelar di kandang sendiri, di depan puluhan ribu suporter fanatiknya. Catat! Kondisi demikian seolah jadi jargon, timnas Cuma jago kandang. Laga uji coba jelang AFF pun setali tiga uang. Hampir semua dilakukan di depan publik sendiri. Nah, ketika harus melawat ke negeri orang, kokohnya tembok pertahanan (kemasukan 3 gol dari 6 laga) seolah hilang magis. Maman – yang dikenal tangguh dalam 5 pertandingan awal – seolah terhipnotis dan membiarkan Moh Sahrul mengambil bola dalam pengguasaannya lalu terciptalah gol pertama.
PSSI sebagai induk yang melahirkan timnas jelas dianggap paling bertanggung jawab. Ide naturalisasi memang cukup brilian. Namun itu saja tak cukup untuk berprestasi. Pembinaan mental pemain sejak dini juga musti jadi perhatian. Sowan ke sana-sini sah-sah saja, tapi semua itu bisa dilakukan setelah telur selesai dierami dan tiba waktunya tuk menetas……

Sang Koki yang Ingin Masuk KOWAL

Merah putih berkibar begitu gagah di ujung tiang tertinggi. Selasa itu, 17 Agustus 2010, rasa haru dan bangga menyeruak dalam dada setiap bangsa Indonesia. Terlebih dalam diri Desy Septa Tri Cahya. Mengantarkan sang saka menuju puncak tahtanya merupakan kebanggaan luar biasa buat koki XII JB 1 ini. Bagaimana tidak? Gadis kelahiran Kediri, 24 September 1993 ini adalah satu-satunya wakil SMKN 1 Cerme sebagai anggota PASKIBRA pada upacara kemerdekaan RI ke 65 di kabupaten Gresik. Udah kenal baik dengan dia? Kalo belum cek n simak baik-baik profil dari gadis tinggi semampai dengan wajah ayu berikut ini….
Bermula dari cita-citanya bergabung di KOWAL (Korps Wanita Angkatan Laut), pecinta pecel (apa saja pokonya dipecel yang penting halal, gitu desy?) plus air putih ini mengikuti PASSUS sejak Juli 2008 alias pas doi masih kelas X. Pada tahun yang sama, penghobi menulis, maen badminton dan bersepeda ini terpilih jadi tim PASKIBRA untuk upacara kemerdekaan di kecamatan Cerme. Tahun berikutnya putri ketiga dari Bapak Edi Santoso dan Ibu Murriati ini ikut tes PASKIBRA di kabupaten. Sayangnya Dewi Fortuna lagi gak di pihak Desy nih, tau tuh kemana si Dewi..!!!
Nah pada tahun 2010 inilah kenginan siswi berkulit kuning langsat ini kesampaian. Seleksi untuk jadi tim Pengibar Bendera selevel kabupaten ini nggak maen-maen loh, langsung di komando Bapak-bapak anggota TNI. Sampai akhirnya terpilih 75 siswa dari 200 siswa pendaftar se kabupaten Gresik, termasuk Desy. Penggemblengan dilakukan mulai pada tanggal 1 Agustus sampai 13 Agustus 2010. Ditambah karantina mulai 14-16 Agustus 2010. Selain itu, kegiatan latihan dilaksanakan pada bulan puasa dan setiap hari!!! Wah, bener-bener menguras tenaga tuh,, tapi buat cewek yang punya kakak di XII TITL 1 ini mah, walau halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran, waha……(lagunya Sun Go Kong gitu…).
Beralih ke pendidikan, cewek jangkung bertinggi 167 cm ini menyelesaikan pendidikan kanak-kanak di TK Al Hikmah Surabaya. SDN Banyu Urip VI/367 Surabaya menjadi pijakan berikutnya sang doi menimba ilmu. SMP Sunan Ampel Menganti jadi halte berikutnya sebelum akhirnya berlabuh di Bumi Alas Jurit. Rencana selanjutnya, setelah lulus dari SMK, masih sama yakni Masuk KOWAL (Amin, semoga kesampaian, Mbak Desy)
Waktu ditanya soal motivatornya, warga Gempal Kurung Menganti yang punya panggilan kesayangan “GOTHEK” coz tinggi dan agak kurusan ini nggak spontan jawab. Ini dkarenakan menurut dia motivasi terbesar datang dari diri sendiri (NARSIS juga teman kita yang satu ini). Baru dech orang lain. Dari ortu, kakak, Pak Pramana Habe, Bambang T.C. (Sopo iku???) sebagai ketua PASSUS dan teman-teman pastinya.
Biarpun susah & soro, PASKIBRA tahun ini berkesan banget buat doi coz banyak teman, banyak pengalaman, ngelatih mental + disiplin n pastinya ketemu Bapak No. 1 di Gresik alias Pak Robbah Ma’sum. Pesan sang kakak buat adek-adek kelas, jangan gampang menyerah n menghargai kemampuan kalian. Oia kak Desy juga ngajakin adek-adek buat gabung di PASSUS. Ekstrakurikuler ini melatih kedisiplinan, mental dan tentunya menyenangkan. So, tunggu apalagi, JOIN PASSUS NOW!!! Thanks for reading my last report!!!
By Ana_Ki1